SAMARINDA - Kalimantan, terutama Kaltim, yang kaya akan sumberdaya alam (SDA) dan berbagai potensi lainnya, ternyata tak hanya menjadi perhatian Jakarta (Pemerintah Pusat). Di luar itu, wilayah ini juga menarik perhatian negara adidaya, Amerika Serikat.
Hal tersebut diungkapkan pengamat kebijakan publik, Ichsanudin Noorsy, saat bicara dalam Seminar Nasional Bangkit Melawan Korupsi untuk Mewujudkan Island of Integrity di Kaltim, di Ballroom Hotel Bumi Senyiur, Senin (24/1). Seminar gelaran Laskar Anti Korupsi Indonesia (LAKI) Samarinda, selain menghadirkan Ichsanudin, ada juga Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kaltim Dachamer Munthe, dan moderator Sofyan Masyur, direktur Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) Area Kaltim.
Ichsanudin menjelaskan, Kalimantan dengan kekayaan bumi yang dimiliki tak hanya menjadi perhatian Amerika, tapi juga negara-negara besar lainnya. Indikatornya, tentu karena kekayaan alam.
Di bidang ekonomi, terang dia, Amerika dan Tiongkok tentu punya kepentingan terhadap kekayaan di bumi Kalimantan. Apalagi, kedua negara itu di level internasional bersaing dalam hal perekonomian.
“Kalimantan, khususnya Kaltim, tak hanya jadi pusat perhatian Jakarta, tapi juga Washington (Amerika),” kata pria yang juga pengamat ekonomi itu.
Dia menyebutkan, ada beberapa indikator mengapa dirinya berstatemen soal posisi Kalimantan yang menarik perhatian Amerika. Salahsatunya, karena selama ini sudah beberapa kali orang penting di Amerika bertandang ke Kalimantan. Salahsatunya, kata dia, George Soros, seorang spekulan pasar uang berkebangsaan Amerika yang pernah singgah di Kalimantan Tengah sebelum bertandang ke Jakarta.
“Seorang George Soros pernah singgah di Kalteng, itu tentu harus jadi perhatian,” tuturnya.
Sekadar diketahui, beberapa literatur di dunia maya menyebutkan, salahsatu yang membuat terkenal George Soros karena tindakannya yang menjadi salahsatu penyebab krisis ekonomi di Asia pada 1997. Negara yang paling terkena dampaknya adalah Korea Selatan, Thailand, dan Indonesia.
Saat itu, mata uang ketiga negara tersebut menjadi rendah terhadap dolar Amerika. Rupiah yang awalnya Rp 2.000 hingga Rp 2.400, meroket menjadi Rp 9.000 hingga Rp 9.500 saat terjadi krisis.
Kembali ke Ichsanudin, dirinya mengaku, selain soal kedatangan Soros tersebut, dia juga punya data-data lain yang terkait dengan statemennya tersebut.
Dia menilai, di mata dunia internasional, posisi Kalimantan strategis. Khususnya, mengenai potensi alam yang dimiliki itu.
Untuk Kaltim, sejak dulu terkenal sebagai salahsatu provinsi kaya di Indonesia. Data yang diperoleh media ini dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim, dalam tiga tahun terakhir Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim angka rata-ratanya Rp 300 tiriliunan. Pada 2008, jumlah PDRB Rp 315 triliun, tahun 2009 jumlahnya sempat turun menjadi Rp 281 triliun. Pada 2010, diprediksi angkanya kembali pada posisi di atas Rp 300 triliun.
Di luar itu, Kaltim juga tercatat sebagai provinsi penghasil batu bara. Pada 2010 lalu, jumlah produksi “emas hitam” dari Bumi Etam menyentuh 142.987.594 ton. Belum lagi sumberdaya batu bara yang dimiliki.
Data Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kaltim, pada 2008 sumberdaya batu bara di Kaltim 18.588.110.000 ton, dari jumlah itu cadangan yang bisa ditambang ada 4.135.310.000 ton. Meningkat pada 2009 menjadi, 21.874.410.000 ton sumberdaya dan 5.002.010.000 ton untuk cadangan yang bisa ditambang.
Pada 2010 jumlah sumberdaya ada 28.453.204.960 ton, dan cadangan 7.797.832.984 ton. (far)
Browse: Home > Amerika Incar KALTIM
















0 Comments:
Posting Komentar