SBCNEWS -- “Jangan lupa bersihkan toilet anda, jangan meniru industri tambang yang membuat rakyat membersihkan kotoran yang ia tinggalkan” --Jared Diamond--
Kaltim lebih mirip Toilet, karena industri tambang hanya mampir mengeruk sumber daya alam, meninggalkan lubang, penggundulan hutan dan kekerasan. Datang, gali dan pergi.
Apa bedanya operasi pertambangan dan WC umum ? Jika kita pergi ke WC umum, selalu ada peringatan yang berbunyi “siramlah setelah buang air atau bersihkan setelah menggunakan kloset”. Tetapi tak ada peringatan kepada operasi pertambangan yang berbunyi, “bersihkan setelah menambang”.
Di Kukar kini ada 31 lubang berisi air asam tambang yang total luasannya 838 hektar ditinggalkan begitu saja, sementara di kota samarinda tercatat 839 hektar luasan lubang dan bongkaran tanah yang juga ditelantarkan oleh perusahaan tambang. Di lubang bekas PT. Kitadin dari Thailand telah memakan korban, 3 anak seusia SMP, jatuh dan meninggal dunia tahun lalu.
Terdapat 33 ijin dari pusat dan 1269 ijin daerah tambang batubara yang mencongkeli perut bumi kaltim, kini satu-persatu mulai terasa akibatnya, mulai dari banjir, krisis energi, gangguan kesehatan karena pencemaran, penggusuran masyarakat adat dan budaya korupsi akut.
Kini 4,4 Juta Hektar lahan dikapling Ijin Tambang Batubara, seluas negara Swiss. 12 ribu pertahun lahan pertanian menyusut akibat ekspansi tambang, sawit dan HPH. Tinggal 80 hektar saja dari 475 hektar lahan sawah yang langsung dimiliki petani transmigran Bali-Lombok di desa Kertabuana, 395 hektar lainnya telah dijual ke perusahaan tambang PT. Kitadin dan Mahakam Sumber Jaya.
Produksi beras kaltim sejak tahun 2008 hanya 570 ribu ton, sisanya 20 ribu ton bergantung pada daerah lain yaitu sulawesi selatan dan jawa timur. Menyempitnya ruang bagi pemenuhan beras disebabkan oleh semakin luasnya peralihan lahan dari lahan pertanian menjadi lahan pertambangan dan sawit. Lumbung-lumbung adat dayak tunjung benuaq di Putak kini lenyap bersamaan dengan hilangnya ladang-ladang akibat konsesi tambang.
9 aliran sungai kecil hilang. Sedangkan sungai Mahakam yang luasnya 900 km dan melayani warga di Kabupatan Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Kota Samarinda juga mengalami penurunan kualitas, mengandung zat-zat beracun berbahaya, keruh, abrasi dan mengalami pendangkalan, memicu banjir kerap datang. Itu terjadi akibat akumulasi penggundulan hutan dan penggalian batubara.
Agama dan kebudayaan lokal juga dihabisi. Blontang, patung kayu untuk upacara ritual makin sulit didapat bersamaan dengan massifnya penebangan kayu di hutan-hutan terdekat pemukiman masyarakat adat. 130 keluarga Tunjung Benuaq di Dusun Putak, Kukar terpaksa mengkonsumsi beras raskin dan beras dari luar karena ladang-ladang telah dijual ke perusahaan tambang.
Kalau sudah begini, maka apa bedanya bumi kaltim dengan toilet. Jika industri hanya mampir dan meninggalkan kotoran. Keselamatan pangan rakyatnya tidak dijaga karena memasrahkan lahan-lahan pertanian untuk industri keruk.
Sumber: Jaringan Advokasi Tambang
Browse: Home > Sadarkah Kita, Kaltim Sedang Di Jadikan Toilet Tambang???















0 Comments:
Posting Komentar